Rabu, 06 Juni 2012

Belajar dari Sejarah Kesultanan Demak untuk Tidak Salah Lagi


 
Demak Didirikan oleh Para Wali (Ulama)

Sebelum Kesultanan Demak berdiri, para telah 20-an tahun membangun pondasi kemasyarakatan dan menyusun kekuatan di Demak. Hal ini diawali dengan pendirian Masjid Agung Demak pada tahun 1479. Selanjutnya, pada tanggal 28 Maret 1503 pada momen yang tepat, yaitu setelah kekalahan Majapahit dari pasukan gabungan kadipaten-kadipaten bawahan yang dipelopori Kadipaten Bintoro, Kesultanan Demak didirikan. Sunan Giri sebagai wali yang paling paham tentang ilmu ketatanegaraan (beliau adalah Raja Giri Kedaton yang sekarang berada  di Kebomas, Gresik) dipercaya oleh para wali untuk meletakkan dasar-dasar negara. Setelah 40 hari melaksanakan tugasnya, Sunan Giri menyerahkan Kesultanan Demak yang baru berdiri kepada Raden Fatah. Beliau, Raden Patah, dinobatkan menjadi Sultan Bintoro pada tanggal 12 Rabiul Awal atau 12 Mulud Tahun 1425 Saka (dikonversikan menjadi 28 Maret 1503).

Kemajuan Demak adalah Hasil Kerja Para Ulama dan Orang-orang Berkualitas Keilmuwan

Pada masa Sultan Fatah, Kesultanan Bintoro sudah memiliki wilayah yang luas dari kawasan induknya ke barat hingga Cirebon. Pengaruh Demak terus meluas hingga meliputi Aceh yang dipelopori oleh Syeh Maulana Ishak (Ayah Sunan Giri). Kemudian Palembang, Jambi, Bangka yang dipelopori Adipati Aryo Damar (Ayah Tiri Raden Patah) yang berkedudukan di Palembang; dan beberapa daerah di Kalimantan Selatan, Kotawaringin (Kalimantan Tengah).

Kemajuan yang dicapai oleh Bintoro, salah satunya adalah karena para wali selalu diposiskan di atas sultan, yaitu sebagai penasehat dan pelaksana kebijakan. Hal ini dapat disimpulkan dari forum wali yang diadakan secara rutin di Masjid Agung Demak dan dijadikannya Sunan Kudus sebagai imam Masjid Agung Demak. Sementara itu, Sunan Kalijaga dalam beberapa catatan dinyatakan membantu Sunan Gunungjati untuk memperluas pengaruh Islam sampai ke Cirebon. Beliau juga yang meng-Islamkan adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang. Ini mengisyaratkan bahwa Sultan Fatah mempercayai orang-orang berkualitas keilmuan tinggi untuk ikut membesarkan kesultanan.

Kesalahan Pertama Kesultanan Demak: Dipinggirkannya Posisi Para Wali dalam Menentukan Kebijakan

Pada tahun 1518, Sultan Fatah mangkat, beliau berwasiat supaya menantu beliau Pati Unus diangkat menjadi raja Demak berikutnya. Ini adalah awal dari dipinggirkannya posisi para wali dalam menentukan kebijakan di Demak.

Kesalahan Kedua Kesultanan Demak: Merasa Lebih Berhak untuk Mewarisi Kekuasaan

Tidak dinyana tidak disangka, Sultan Demak II Pati Unus hanya berkuasa selama 3 tahun, dari tahun 1518-1521. Beliau wafat dalam perang melawan Portugis di Malaka. Sepeninggal Pati Unus, sebagian keturunan Sultan Fatah merasa lebih berhak untuk mewarisi Kesultanan Demak karena Pati Unus hanya menantu Raden Patah dan keturunan Pati Unus (secara patrilineal) adalah keturunan Arab seperti keluarga Kesultanan Banten dan Cirebon, sementara Raden Patah adalah keturunan Arab hanya dari pihak Ibu sedangkan secara patrilineal (garis laki-laki terus menerus dari pihak ayah, Brawijaya) adalah murni keturunan Jawa (Majapahit). Karena sebab ini lah, Raden Abdullah putra Pati Unus yang selamat dari perang Malaka diamankan oleh kerabatnya di Banten (tidak pulang ke Demak).

Kesalahan Ketiga: Digunakannya Cara Kotor untuk Mendapatkan Kekuasaan

Dalam kekacauan politik paska meninggalnya Pati Unus, terjadi perebutan kekuasaan antara dua anak lelaki mendiang Sultan Fatah dengan Ratu Asyikah (putri Sunan Ampel), yaitu Raden Kikin (Pangeran Sedo Lepen) dan Raden Trenggono. Pangeran Mukmin, anak tertua Raden Trenggono mengirim orang untuk membunuh Raden Kikin. Raden Trenggono pun akhirnya naik tahta, menobatkan dirinya sebagai Sultan.


Kesalahan Keempat: Perpecahan Di kalangan Ulama Karena Kurang Menghargai Perbedaan

Pada masa Sultan Trenggono, mulai terjadi friksi antar para ulama (wali). Kala itu, Sultan Trenggono mengundang Sunan Kalijaga yang saat itu berdakwah di Cirebon, untuk pulang ke Bintoro. Beliau diberi tanah di daerah Kadilangu. Diceritakan, suatu kali terjadi perbedaan pendapat antara imam Masjid Agung Demak yaitu Sunan Kudus dengan Sunan Kalijaga tentang penentuan awal Romadlon. Dalam persoalan tersebut, Sultan Trenggono memihak Sunan Kalijaga. Merasa tersinggung, akhirnya Sunan Kudus mengundurkan diri sebagai imam Masjid Demak dan pindah ke Kudus.

Kesalahan Kelima: Komplikasi yang Menghancurkan
Sepeninggal Sunan Trenggono, Raden Mukmin naik tahta. Beliau memimpin selama 3 tahun antara 1546-1549. Raden Mukmin kurang ahli dalam berpolitik dan lebih suka hidup sebagai ulama suci dari pada sebagai raja. Karena itu, ia memindahkan ibu kota Demak dari bintoro ke bukit prawoto, sehingga ia dijuluki Sunan Prawoto. Menurut babad tanah Jawi ia dibunuh oleh rangkud anak buah Arya Penangsang, putra Pangeran Kinkin yang dibunuhnya.

Pada masa akhir Kesultanan Demak ini, terjadi komplikasi kekacauan. Ketidakcakapan pemimpin (Sultan) menjadi salah satu sebab. Dendam kekuasaan juga telah mempercepat kehancuran. Sementara, keberpihakan dan gesekan antara para ulama (Sunan Kudus dengan Sunan Kalijaga) semakin memperkeruh keadaan. Pada akhirnya, negeri Demak hancur....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar