Selasa, 21 Desember 2010

SIAPA BUTUH ANGKA GDP?

Gross Domestic Product atau yang disingkat GDP dianggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian suatu negara. Ada dua cara untuk melihat statistik ini. Pertama adalah dengan menganggapnya sebagai pendapatan total dari setiap orang di dalam suatu perekonomian. Kedua, adalah dengan melihatnya sebagai pengeluaran total atas output barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Dalam teori ekonomi selalu dikatakan, bahwa GDP mengukur sesuatu yang dipedulikan orang banyak---yaitu pendapatan mereka, output barang dan jasa yang diminta rumah tangga, swasta dan pemerintah

GDP sesungguhnya adalah angka abstrak yang orang tidak memperdulikannya, karena angka ini sama sekali tidak berpengaruh pada mereka. Angka ini hanya dibutuhkan oleh pimpinan-pimpinan politik sebagai hipnotis untuk meyakinkan orang bahwa mereka telah berhasil sebagai pemimpin.

GDP pada hampir seluruh negara di dunia dihitung berdasarkan pengeluaran masyarakat (aspek konsumtif). Cara melihat GDP sebagai ukuran keberhasilan ini secara substatif sangat menyesatkan. Karena suatu negara dianggap tumbuh apabila konsumsinya meningkat. Tidak mempedulikan siapa yang melakukan konsumsi atau siapa yang memproduksi barang dan jasa. Sama sekali tanpa melihat apakah konsumsi ini merata atau tidak. Sehingga, dengan akumulasi kapitalisasi dana dan investasi di suatu titik, tanpa melihat wilayah atau kelompok marjinal yang semakin miskin, negara yang bertambah GDP-nya dianggap mengalami pertumbuhan positif.

GDP semestinya bisa menjadi agak lebih bermakna apabila dilihat dari aspek pendapatan. Minimal, lembaga statistik memiliki data pendapatan setiap orang dengan lebih akurat sehingga bisa dilakukan pemetaan kelompok atau wilayah mana yang minim pendapatannya. Data ini kemudian bisa menjadi acuan bagi para pemimpin untuk membuat kebijakan yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar